BI Survei Harga Rumah Naik Setengah Persen

BI Survei Harga Rumah Naik Setengah Persen

Bank Indonesia (BI) merilis hasil survei berjudul Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal lV-2017.

Pada periode 3 bulan terakhir 2017, harga properti meningkat sebesar 0,55 persen. Kenaikan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 0,5 persen.

Secara tahunan, indeks harga properti juga meningkat dari kuartal sebelumnya, dari 3,32 persen menjadi 3,5 persen.

"Kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja masih menjadi faktor utama penyebab kenaikan harga rumah. Harga bangunan tercatat naik 34,67 persen sedangkan upah pekerja 21,33 persen," tulis BI.

Kenaikan harga properti residensial terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe menengah sebesar 0,79 persen.

Sementara rumah tipe kecil mengalami perlambatan kenaikan menjadi sebesar 0,43 persen dibandingkan 0,61 persen pada triwulan sebelumnya.

Responden memperkirakan indeks kenaikan harga properti residensial masih akan berlanjut pada kuartal I-2018 dengan pertumbuhan sebesar 0,72 persen.

Meski demikian, kenaikan harga ini cenderung melambat dari kuartal sebelumnya. Pada kuartal I-2018, harga properti residensial diperkirakan naik sebesar 2,98 persen.

Sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis properti adalah tingginya suku bunga KPR 20,11 persen, tingginya uang muka rumah 18,72 persen, pajak 15,73 persen, lamanya perizinan 13,92 persen, serta kenaikan harga bahan bangunan 12.39 persen.

Banyak Android Terjangkit Malware Penambang Uang Virtual

Banyak Android Terjangkit Malware Penambang Uang Virtual

Proses "menambang" (mining) mata uang virtual membutuhkan daya komputasi yang besar. Karena itulah belakangan muncul tren di mana hacker membajak komputer korban untuk mining, dengan malware atau script yang diselipkan di situs web.

Semakin banyak komputer yang dibajak, semakin besar pula sumber daya kolektif untuk proses tersebut.

Belakangan, kejadian semacam ini melebar pula ke ranah gadget mobile. Firma sekuriti mobile Malwarebytes mengungkapkan adanya serangan skala besar yang secara khusus menyasar smartphone Android.

Para hacker yang terlibat menggunakan metode iklan redirect untuk mengalihkan peramban mobile di perangkat-perangkat mobile ke beberapa situs berisi penambang mata uang virtual Monero (XMR). Angka CPU utilization yang menandakan pemakaian prosesor oleh proses mining pun melonjak.

Anehnya, situs penambang mata uang virtual itu berterus terang soal memanfaatkan perangkat Android pengunjung alias korban redirect untuk melakukan mining. Situs lalu meminta korban memasukkan captcha untuk membuktikan bahwa si korban bukan "bot".

Usai memasukkan captcha, korban akan kembali dialihkan ke laman beranda Google. Selagi belum memasukkan captcha ini, situs akan terus menerus memakai sumber daya perangkat korban secara maksimal untuk menambang uang virtual (cryptomining).

Metode yang digunakan para hacker untuk melakukan redirect tidak diketahui persis, namun diduga melibatkan aplikasi terinfeksi malware yang terunduh ke perangkat korban, untuk kemudian menampilkan iklan menuju situs mining.
Dalam laporannya, Malwarebytes menerangkan rata-rata korban yang dialihkan ini menghabiskan empat menit di situs-situs mining ini. Situs awalnya dimuat sebagai pop-under supaya korban tak langsung menyadari apa yang sedang terjadi.

Meski tiap perangkat mobile hanya disedot sumberdayanya untuk mining selama hitungan menit, jumlah ponsel yang menjadi korban terbilang banyak. Jumlah trafik ke situs-situs mining tersebut diperkirakan mencapai kisaran 800.000 per hari. Dengan demikian, diperkirakan jumlah korban sudah mencapai jutaan.

"Perangkat mobile mungkin tidak sekuat komputer desktop, namun jumlahnya lebih banyak, ujar analis malware di Malwarebytes, Jerome Segura, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari ZDNet, Kamis (15/2/2018).

Serangan "cryptomining"skala besar macam ini bisa menghasilkan mata uang virtual bernilai besar bagi kelompok hacker pelakunya. Malware miner Smominru yang menyasar sistem operasi Windows dengan exploit EternalBlue, misalnya, diestimasi telah berhasil menambang mata uang virtual senilai 3,6 juta dollar AS.

Operasi hacker yang menyasar perangkat Android lewat redirect ke situs-situs mining diperkirakan telah berjalan sejak November tahun lalu, tapi baru mulai diketahui secara meluas pada Januari tahun ini.

Agar tak ikut menjadi korban, Malwarebytes menyarankan pengguna perangkat mobile agar memasang ad-blocker serta aplikasi sekuriti lain.

Usaha E-Commerce Wajib Daftar ke Pemerintah

Usaha E-Commerce Wajib Daftar ke Pemerintah

Pelaku usaha e-commerce bakal diwajibkan untuk mendaftar ke pemerintah. Hal ini akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). Rancangan PP (RPP) sendiri saat ini sudah berada di Sekretariat Negara (Setneg).

Direktur Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN), Kemdag, Tjahya Widayanti mengatakan, pendaftaran tersebut untuk mengawasi perdagangan online.

Selain itu penyelenggara juga perlu mengetahui penjual yang terdapat dalam toko onlinenya. Penyelenggara juga perlu mengetahui dari mana produk penjual tersebut berasal.

Dengan pendataan itu, maka pemerintah dapat mengetahui barang yang beredar di sektor perdagangan daring tersebut.

"Ada kewajiban pelaku ritel jual barang produk Indonesia sebanyak 80 persen, nanti dalam online juga demikian," sebut Tjahya seperti dilansir Kontan, Kamis (1/2/2018).

Mengenai pendataan juga ditekankan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara. Dia menyebut, akan selaraskan data untuk memudahkan pengusaha.

Pendataan mengenai penyelenggara perdagangan digital itu nantinya akan dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

"Pendataan itu dilakukan oleh BPS, Kominfo dan Kementerian Perdagangan itu menyiapkan info yang dibutuhkan bersama dengan BPS," sebut di.(Kontan/Abdul Basith)

Berita ini sudah tayang di Kontan dengan judul Pelaku e-commerce akan wajib mendaftar untuk pendataan oleh pemerintah